ANALISIS PULANG POKOK (BREAK EVENT POINT -BEP)

          Break Event Point (BEP), atau lebih dikenal dengan titik pulang pokok adalah seuatu kondisi dimana jumlah pendapatan dan jumlah pengeluaran adalah seimbang. Secara umum perhitungan analisa pulang Pokok adalah menyamakan nilai Total Pendapatan (TR) dan Nilai Total Biaya (TC).
        

       Nilai Total Pendapatan (TR= total revenue) adalah merupakan jumlah uang yang diterima dari penjualan suatu produk yanitu perkalian antara jumlah harga (P) dan jumlah barang (Q) atau dapat dirumuskan sebagai TR = P x Q (1) , dimana TR adalah total revenue (total Pendapatan ) , P adalah Harga jual produk dan Q adalah jumlah barang.
       

         Nilai Total Biaya (TC=Total Cost) adalah merupakan jumlah biaya total yang diperlukan untuk suatu produk. Total biaya adalah merupakan jumlah dari biaya Tetap (Fixced Cost) dan Biaya Variabel (Variable Cost). Biaya tetap adalah merupakan jumlah dari komponen biaya yang jumlahnya relative tetap pada setiap periode, baik periode bulan atau tahun. Biaya Variabel adala komponen biaya yang jumlahnya bervariasi tergantung pada jumlah barang yang diproduksi. Jadi jika dirumuskan maka
TC = FC + V.Q (2); Dimana TC adalah total biaya, FC adalah biaya tetap dan V adalah biaya Variabel dan Q adalah jumlah barang
Break event point didapatakan ketika jumlah Pendapatan sama dengan jumlah Biaya, atau TR= TC. Jika persamaan 1 dan 2 dimasukan maka P.Q = FC+V.Q ; Q(P-V)=FC ; dan Q = FC/(P-V). dimana Q adalah jumlah barang , FC adalah biaya tetap , V adalah biaya Variabel dan P adalah harga barang.
      
Dalam aplikasi bisnis
maka rumusan diatas sudah dapat memberikan gambaran umum perhitungan BEP , tetapi belum dapat langsung untuk diterapkan. Sebagai contoh dalam menentukan biaya tetap, maka harus dilakukan break down lagi , komponen biaya apakah yang dapat dimasukan ke dalam golongan Biaya tetap. Begitu pula ketika menetukan biaya variable yang merupakan biaya yang langsung berhubungan dengan biaya produksi. Diperlukan analisa yang detail dan cermat untuk menentukan komponen masing-masing biaya. Hal ini juga dikarenakan komponen biaya pada masing masing produk adalah berbeda beda.

         Sebagai contoh ilustrasi adalah menghitung break event point untuk usaha Penjualan Nasi Goreng, maka komponen biaya tetap dan biaya variable dapat dikelompokan sebagai berikut:
Biaya Variabel :
– Nasi Rp. 1.500
– Bumbu Rp. 500
– Minyak Goreng Rp. 500
– Ayam Rp. 1.000
– Telor Rp. 500
– Bungkus Rp. 500
– Ongkos kerja Rp. 500 +
– Jumlah Rp. 5.000
Jumlah biaya untuk membuat satu porsi nasi Goreng adalah Rp. 5.000,-
Biaya Tetap : terdiri atas
– Sewa tempat Rp. 1.000.000/ bl
– Gaji Pegawai Rp. 1.000.000/ bl
– PDAM Rp. 50.000/bl
– Telepon Rp. 100.000/ bl
– Pengadaan Peralatan Masak Rp. 1.000.000/ bl
– Jumlah Rp. 3.150.000/ bl
Jumlah biaya tetap yang harus dibayar per bulan adalah Rp. 3.150.000,-
Yang menjadi pertanyaan adalah , berapa nasi goring yang harus terjual per bulan untuk BEP, jika harga jual nasi Goreng per porsi Rp. 7.000,-
Perhitungan:
– TR = TC
– P.Q= FC + V.Q
– 7.000 .Q = 3.150.000 + 5.000 x Q
– 7000Q-5000Q = 3.150
– 2000Q = 3.150
– Q = 3150/2000
-Q= 1575 porsi
Jadi untuk BEP maka setiap bulan harus dapat terjual sebanyak 1575 porsi atau 52,5 porsi per hari.

Keutungan usaha adalah jika mampu untuk menjual lebih dari Q pada BEP
Untuk kasus bisnis yang lainnya maka, tentu memerlukan rincian yang berbeda dan banhkan akan memerlukan perhitungan yang lebih rumit jika perusahaan yang ditangani besar dan jumlah produk bervariasi.

Comments

comments

Leave a Reply


6 − five =